×

Idul Fitri Hakikatnya Umat Manusia kembali Fitrah dan Suci

Posted by Kembar Pro

Fitrah adalah suasana jiwa yang suci yang menjelma dalam pemeliharaan tauhid, ketaatan dan penghambaan, serta pemeliharaan kesucian diri sebagai hamba Allah yang Maha Pengasih. 

Jika di penghujung Ramadhan ini kaum muslimin merayakan hari Raya Idul Fitri, tentu maknanya adalah kesiapan untuk menjadikan momentum Ramadhan ini sebagai proses pembersihan diri dan kesadaran akan kembali kepada fitrah. Dan hakikat kembali fitrah itu diwujudkan dalam bentuk mengokohkan ketauhidan, menguatkan komitmen ubudiyah, dan memelihara karakteristik terpuji.


الله اكبر 9 مرات. الله اكبركبيرا والحمد لله كثيرا وسبحان الله بكرة وأصيلا لا اله الاالله والله اكبر الله اكبرولله الحمد. الحمد لله غَافِرُالذَّنْبِ وَقَابِلُ التَّوْبِ شَدِيْدُ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ لااله الا هو واليه المصير. أشهد أن لااله الاالله رب كل شيء وهوالعليم الخبير. وأشهد أن محمدا عبده ورسوله الدَّاعِي وَالسِّرَاجُ الْمُنِيْرُ. اللهم صل وسلم علي محمد الْمُصْطَفَي الْمُخْتَارُ وعلي آله وأصحابه وَمَنْ يُوَالِيْهِمْ مَنِ اتَّبَاعَهُ الأَخْيَارَ. أمابعد فياأيهاالموْمنون العائدون أصيكم وإياي نفسي بتقوي الله فِي السِّرِّوَالْعَلَنِ وَفِي كُلِّ أَحْيَانٍ فَإِنَّ اللهَ لِلْمُتَّقِيْنَ وَلِيٌّ وَنَصِيْرٌ 

Idul Fitri Hakikatnya Umat Manusia kembali Fitrah dan Suci


Allahu Akbar walillahil hamd,

Jika seorang muslim ingin membuktikan kesungguhannya untuk kembali kepada fitrahnya, salah satu bentuknya adalah dengan membuktikan komitmen ibadahnya kepada Allah SWT. Ia memelihara shalat yang difardhukan kepadanya dan melengkapinya dengan shalat-shalat sunnah. Ia berpuasa wajib dan melengkapinya dengan puasa-puasa sunnah. Mengeluarkan zakat dan menyempurnakannya dengan infak dan sedekah. Ia melaksanakan haji ke Baitullah dan menyempurnakannya dengan umrah.

Sebagai hamba, kita menyadari begitu banyak kekurangan yang telah kita lakukan. Terkadang kita sibuk berhari-hari, berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun bekerja keras dan banting tulang hanya untuk menyenangkan hati orang-orang yang kita cintai. Suami menghabiskan hampir semua waktu siangnya untuk menyenangkan istrinya hingga berkali-kali ia meninggalkan shalat Zhuhur dan Asharnya, dan istri menghabiskan hampir semua waktu malamnya untuk menyenangkan suaminya hingga berkali-kali ketinggalan shalat Maghrib dan isyanya. Keadaan itu tentu menjadikan kita seolah lemah keimanannya hingga boleh jadi sampai pada titik keimanan yang sangat lemah. Jika suasana itu terus berlanjut, kita pasti akan semakin jauh dari fitrah kita.

Ramadhan adalah momentum yang sangat efektif untuk mengokohkan keimanan kita dan mengembalikan kita kepada fitrah. Ramadhan merupakan bulan yang disiapkan Allah SWT untuk mendidik jiwa-jiwa yang menjauhi-Nya untuk kembali kepada-Nya, mendidik jiwa-jiwa yang berlumur dosa untuk datang memohon ampunan kepada-Nya, mendidik jiwa-jiwa yang lalai dari ibadahnya untuk bersimpuh bersujud dan mengikhlaskan pengabdiannya.  Semoga Ramadhan ini mampu kita buktikan sebagai bulan mengokohkan iman dan ihtisab (mengharap pahala) kita kepada-Nya, sehingga kita semua mendapatkan ampunan Allah SWT. “Barang siapa berpuasa dengan iman dan ihtisab (mengharap pahala hanya dari Allah), akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari)

Pribadi taqwa hasil tempaan selama bulan Ramadhan yang telah kita lalui semoga dapat berlanjut dalam kehidupan kita disebelas bulan kedepan, karena suasananya sudah berubah, terutama karena musuh utama manusia, syaitan, yang selama Ramadhan diikat, sekarang sudah dilepas kembali oleh Allah SWT. Iblis dan setan serta bala tentaranya tidak akan pernah rela melihat pribadi-pribadi taqwa ini tetap dalam keadaan fitri. Mereka akan segera beraksi untuk memporak-porandakan hasil-hasil Ramadhan dengan segala upaya. Ingatlah, mereka sudah dari dulu sudah memproklamirkan penyesatan kepada seluruh manusia seperti diungkapkan dalam Al-Qur’an:

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ (16) ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ (17

Iblis menjawab: "Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat). (QS. Al-A’raf [7]:16-17)

Ya Allah ya Tuhan Kami, terimalah semua amal ibadah yang telah kami selama sebulan penuh di bulan Ramadhan yang telah berlalu. Ya Allah ya Tuhan Kami, terimalah ibadah puasa kami, shalat fardhu kami, shalat tarawih kami, shalat witir kami, shalat tahajjud kami, wudhu kami, ruku’ dan sujud kami, khusyu’ kami, dzikir kami, bacaan al-Qur’an kami. Kami sadar, ya Allah, semua ibadah yang kami lakukan jauh dari sempurna. Hanya sebatas itu, ya Allah, kemampuan iman kami. Tapi kami memohon kepadaMu, dengan sepenuh kerendahan dan sepenuh pengharapan kami, terimalah itu semua, ya Allah. Ridho-Mu, ya Allah, hanya ridho-Mu-lah yang kami harapkan melingkupi diri kami, keluarga kami, orang tua kami, saudara-saudara kami, masyarakat kami, negara kami. Engkau adalah satu-satunya tempat kami bergantung dan kami memohon pertolongan. Hanya kepadaMu kami bertawakkal, ya Allah. Ya Allah, sampaikanlah kami di bulan Ramadhan yang akan datang, sehingga kami berkesempatan untuk memperbaiki kembali kekurangan-kekurangan kami.

Di tengah rasa sedih dan haru kami yang teramat dalam karena ditinggal bulan yang penuh berkah, bulan Ramadhan, dan kesedihan melihat saudara-saudara kita di Gaza Palestina (bumi kelahiran Imam Syafi’i) yang dibantai Israel la’natullah, umat Islam sedunia merayakan kemenangan besar karena telah berhasil menunaikan tugas atau kewajiban puasa selama sebulan penuh. Allah menjadikan kita pribadi-pribadi taqwa yang fitri karena telah bersih dari dosa-dosa, bagaikan bayi yang baru lahir dari Rahim ibunya.

Puasa enam hari bulan Syawal selepas mengerjakan puasa wajib bulan Ramadhan adalah amalan sunnat yang dianjurkan. Seorang muslim dianjurkan mengerjakan puasa enam hari bulan Syawal. Banyak sekali keutamaan dan pahala yang besar bagi puasa ini. Diantaranya, barangsiapa yang mengerjakannya niscaya dituliskan baginya puasa satu tahun penuh (jika ia berpuasa pada bulan Ramadhan). Sebagaimana diriwayatkan dalam sebuah hadits shahih dari Abu Ayyub Radhiyallahu 'Anhu bahwa Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wassalam bersabda:
"Barangsiapa berpuasa pada bulan Ramadhan lalu diiringinya dengan puasa enam hari bulan Syawal, berarti ia telah berpuasa setahun penuh." (H.R Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ibnu Majah)

Perkataan yg indah adalah ucapan asma “ALLAH” Lagu yg merdu adalah suara berkumandangnya “ADZAN” Media yang terbaik adalah “AL QUR’AN dan Hadist” Gerakan senam yang sehat adalah “SHALAT” Diet yang paling sempurna adalah “PUASA” di bulan ramadhan, Kebersihan yang menyegarkan dan mensucikan adalah “WUDHU” Perjalanan yg paling indah adalah menunaikan ibadah “HAJI” Perbuatan yang baik adalah mengingat akan “DOSA & TAUBAT” Semoga bulan yang suci ini bisa membawa iman dan takwa, Amien YRA. Seiring Terbenam Mentari Di Akhir Ramadhan, Tibalah Kini Bulan Syawal, Pesan Ini Sebagai Ganti Jabat Tangan Untuk Mohonkan Maaf Dan Kekhilafan. Midal Aidin Wal Faizin Mohon Maaf Lahir & Bathin.